Ki Bagus Rangin: Sapu Angin dari Bantarjati yang Menjaga Darma AyuDi selatan Indramayu, di Bantarjati Jatitujuh Majalengka yang dulu masih masuk kekuasaan Indramayu, sekitar tahun 1761 lahir seorang santri. Namanya Bagus Rangin, anak Ki Buyut Sentayem, cucu Ki Buyut Sambeng. Kakaknya Buyut Jabin, adiknya Buyut Salimar dan Bagus Serit.Orang memanggilnya Buyut Sapu Angin. Bukan karena sakti terbang, tapi karena barisan Belanda yang rapi bisa tercerai berai seperti di sapu angin ketika berhadapan dengan siasatnya.Jaman itu rumah besar kita sedang sulit. Di pesisir utara muara Cimanuk sudah lama ada pedukuhan pelabuhan yang maju, yang kemudian di tata menjadi kadipaten oleh Wangsa Wiralodra. Tapi memasuki tahun 1800-an, pada masa Wiralodra V Indramayu secara politik sudah di kendalikan Belanda. Pajak kepala di tarik, tanah di jual ke pengusaha China jadi tanah partikelir, tuan tanah banyak dari luar. Keraton Cirebon lumpuh. Rakyat kecil petani dan santri yang paling merasakan.Dari kegelisahan itulah Bagus Rangin bergerak. Tahun 1802 hanya 1000 orang di perbatasan Jatitujuh, 50 saja yang bersenjata, bersama Bagus Sidong, Bagus Arisim, Bagus Suwasa. Tahun 1805 pecah besar di Pangumbahan, 10.000 orang. Akhir 1806 sudah 40.000 orang bersenjata, inti terlatihnya 280 sampai 300 orang yang di ajari beladiri dan perang gerilya.Bantarjati di jadikan markas. Di sana bentrokan pertama dengan prajurit Dalem Dermayu pecah, lalu bentrok dengan Cina Lohbener di jalur perdagangan. Karena terdesak, Dalem Dermayu Raden Semangun Wiralodra VI minta bantuan ke Batavia.Belanda mencoba tipu muslihat. Datang Tuan Deler membawa surat, katanya Dalem Dermayu sudah menyerahkan negaranya kepada Gubernur Batavia, maka kekuasaan di bagi dua, dan Bagus Rangin akan di angkat menjadi Demang Pemayahan kalau mau damai. Tahun 1808 datang lagi Tuan Postur pura-pura memberi jabatan. Bahkan Laksamana Pastoor menawarkan jabatan Adipati Indramayu menggantikan Raden Semaun asal tidak menyerang Indramayu lagi. Semua di tolak. Jawabannya sederhana, ini bukan soal jabatan, ini soal keadilan untuk rakyat kecil.Perlawanan justru di dukung dari mana-mana. Linggarjati, Luragung, Maja, Sumedang, Karawang, Subang mengirim laskar. Para senapati putra Mayahan seperti Surapersanda, Bagus Seling, Raden Nuralim, Ki Betawi pejabat Kandanghaur, Bagus Pangiwa ikut berkumpul. Belanda sampai harus mendatangkan tentara dari Madura, Demak, Semarang, Surakarta. Sultan Kanoman yang diam-diam membantu di buang ke Ambon.Perang terus berkobar. 16 sampai 29 Februari 1812 menjadi perang besar di Bantarjati. Bagus Rangin kalah, mundur ke hutan Ujung Jaya Sumedang karena istri dan anak di sana. Laporan kolonial mencatat beliau di lindungi pejabat bawah yang simpati. Tapi 27 Juni 1812 tertangkap di Panongan Jatitujuh oleh pasukan gabungan Bupati Karawang dan mantri Kanoman. 12 Juli 1812 dihukum penggal di Karangsambung tepi Sungai Cimanuk.Apakah selesai? Tidak.Dalam Babad Mertasinga dan Babad Dermayu di tulis perlawanan berhenti sementara, lalu bangkit lagi. Tahun 1816 sampai 1818 di pimpin kakaknya Bagus Jabin lalu adiknya Bagus Serit, yang juga di sebut Pangeran Syakroni.Puncaknya adalah Perang Kedongdong. April sampai September 1818, pusatnya di Desa Kedongdong Kecamatan Susukan. Belanda di tantang datang, tapi sudah di siapkan jebakan gerilya di pematang dan hutan. Selama beberapa hari Belanda kalah terus. Catatan kolonial menyebut 7.000 santri terlatih, tradisi lisan menyebut 70.000 rakyat terdiri petani, santri dan bangsawan yang keluar keraton. Pasukan yang semula ikut VOC membelot. Belanda sampai mengeluarkan sayembara berhadiah hidup atau mati. Perang dipimpin Pangeran Matangaji dibantu Laskar Santri.Dari sinilah sejarawan menyebut Geger Ciayumajakuning atau Perang Cirebon 1802-1818 sebagai pemberontakan besar pertama di Pulau Jawa sebelum Diponegoro, bahkan disebut Perang Kedongdong Nasional sebagai penerus jihad Panembahan Ratu.Ki Bagus Rangin gugur, tapi napasnya tidak putus. Anak-anak selatan Indramayu hari ini seperti Terisi, Cikedung, Tukdana, Bangodua adal
Arthamediah.com- Bagus Rangin: Sapu Angin dari Bantarjati yang Menjaga Darma Ayu

Di selatan Indramayu, di Bantarjati Jatitujuh Majalengka yang dulu masih masuk kekuasaan Indramayu, sekitar tahun 1761 lahir seorang santri. Namanya Bagus Rangin, anak Ki Buyut Sentayem, cucu Ki Buyut Sambeng. Kakaknya Buyut Jabin, adiknya Buyut Salimar dan Bagus Serit.
Orang memanggilnya Buyut Sapu Angin. Bukan karena sakti terbang, tapi karena barisan Belanda yang rapi bisa tercerai berai seperti di sapu angin ketika berhadapan dengan siasatnya.
Jaman itu rumah besar kita sedang sulit. Di pesisir utara muara Cimanuk sudah lama ada pedukuhan pelabuhan yang maju, yang kemudian di tata menjadi kadipaten oleh Wangsa Wiralodra. Tapi memasuki tahun 1800-an, pada masa Wiralodra V Indramayu secara politik sudah di kendalikan Belanda. Pajak kepala di tarik, tanah di jual ke pengusaha China jadi tanah partikelir, tuan tanah banyak dari luar. Keraton Cirebon lumpuh. Rakyat kecil petani dan santri yang paling merasakan.
Dari kegelisahan itulah Bagus Rangin bergerak. Tahun 1802 hanya 1000 orang di perbatasan Jatitujuh, 50 saja yang bersenjata, bersama Bagus Sidong, Bagus Arisim, Bagus Suwasa. Tahun 1805 pecah besar di Pangumbahan, 10.000 orang. Akhir 1806 sudah 40.000 orang bersenjata, inti terlatihnya 280 sampai 300 orang yang di ajari beladiri dan perang gerilya.
Bantarjati di jadikan markas. Di sana bentrokan pertama dengan prajurit Dalem Dermayu pecah, lalu bentrok dengan Cina Lohbener di jalur perdagangan. Karena terdesak, Dalem Dermayu Raden Semangun Wiralodra VI minta bantuan ke Batavia.
Belanda mencoba tipu muslihat. Datang Tuan Deler membawa surat, katanya Dalem Dermayu sudah menyerahkan negaranya kepada Gubernur Batavia, maka kekuasaan di bagi dua, dan Bagus Rangin akan di angkat menjadi Demang Pemayahan kalau mau damai. Tahun 1808 datang lagi Tuan Postur pura-pura memberi jabatan. Bahkan Laksamana Pastoor menawarkan jabatan Adipati Indramayu menggantikan Raden Semaun asal tidak menyerang Indramayu lagi. Semua di tolak. Jawabannya sederhana, ini bukan soal jabatan, ini soal keadilan untuk rakyat kecil.
Perlawanan justru di dukung dari mana-mana. Linggarjati, Luragung, Maja, Sumedang, Karawang, Subang mengirim laskar. Para senapati putra Mayahan seperti Surapersanda, Bagus Seling, Raden Nuralim, Ki Betawi pejabat Kandanghaur, Bagus Pangiwa ikut berkumpul. Belanda sampai harus mendatangkan tentara dari Madura, Demak, Semarang, Surakarta. Sultan Kanoman yang diam-diam membantu di buang ke Ambon.
Perang terus berkobar. 16 sampai 29 Februari 1812 menjadi perang besar di Bantarjati. Bagus Rangin kalah, mundur ke hutan Ujung Jaya Sumedang karena istri dan anak di sana. Laporan kolonial mencatat beliau di lindungi pejabat bawah yang simpati. Tapi 27 Juni 1812 tertangkap di Panongan Jatitujuh oleh pasukan gabungan Bupati Karawang dan mantri Kanoman. 12 Juli 1812 dihukum penggal di Karangsambung tepi Sungai Cimanuk.
Apakah selesai? Tidak.
Dalam Babad Mertasinga dan Babad Dermayu di tulis perlawanan berhenti sementara, lalu bangkit lagi. Tahun 1816 sampai 1818 di pimpin kakaknya Bagus Jabin lalu adiknya Bagus Serit, yang juga di sebut Pangeran Syakroni.
Puncaknya adalah Perang Kedongdong. April sampai September 1818, pusatnya di Desa Kedongdong Kecamatan Susukan. Belanda di tantang datang, tapi sudah di siapkan jebakan gerilya di pematang dan hutan. Selama beberapa hari Belanda kalah terus. Catatan kolonial menyebut 7.000 santri terlatih, tradisi lisan menyebut 70.000 rakyat terdiri petani, santri dan bangsawan yang keluar keraton. Pasukan yang semula ikut VOC membelot. Belanda sampai mengeluarkan sayembara berhadiah hidup atau mati. Perang dipimpin Pangeran Matangaji dibantu Laskar Santri.
Dari sinilah sejarawan menyebut Geger Ciayumajakuning atau Perang Cirebon 1802-1818 sebagai pemberontakan besar pertama di Pulau Jawa sebelum Diponegoro, bahkan disebut Perang Kedongdong Nasional sebagai penerus jihad Panembahan Ratu.
Ki Bagus Rangin gugur, tapi napasnya tidak putus. Anak-anak selatan Indramayu hari ini seperti Terisi, Cikedung, Tukdana, Bangodua adal
(SOKIBIN)
